Istilah primata mungkin bukan hal yang baru di telinga masyarakat Indonesia. Setelah primata-primata besar lainnya seperti Orang Utan (Pongo pygmaeus) dan Owa Jawa (Hylobathes moloch) dinyatakan sebagai satwa yang terancam punah. Sementara itu, ada salah satu jenis primata yaitu Kukang (Nycticebus coucang) yang sedang menanti antrian menuju kepunahannya. Keterbatasan informasi mengenai kukang, yang menyebabkan satwa ini sedikit terlupakan. Tidak banyak pula literature yang diterbitkan sebagai hasil dari penelitian yang intensif.
Kukang kadang-kadang disebut pula malu-malu adalah jenis primata yang bergerak lambat. Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis coklat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuh 0,375-0,9 kg, panjang tubuh dewasa 19-30 cm.
Di Ind onesia, satwa ini dapat ditemukan di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Satwa ini menjadi incaran untuk dijadikan hewan peliharaan.
Pengelompokan
Berasal dari Ordo Primate, kukang menempati Sub Ordo Prosimian dan Family Lorisidae. Terdapat sedikitnya tiga spesies di Asia, yaitu slow loris (Nycticebus coucang), pygmy loris (Nycticebus pygmaeus) dan slender loris (Loris tardigardus).
Empat sub spesies dari slow loris yang ada, antara lain Nycticebus coucang bengalensis yang terdapat di Assam, Myanmar, Thailand dan Indo-Cina. Secara morfologi, berukuran besar dengan berat ± 2000g dan berwarna cerah. Nycticebus coucang, tersebar di Malaysia, Sumatera, Thailand bagian Selatan, sebelah Utara Kepulauan Natuna. Berukuran lebih kecil daripada Nycticebus coucang bengalensis, berwarna coklat terang dengan bagian dahi yang lebih gelap. Ketiga, Nycticebus coucang menagensis yang dapat dijumpai di daerah Borneo, Bangka dengan ukuran tubuh relative lebih kecil jika dibandingkan dengan Nycticebus coucang coucang. Terakhir, Nycticebus coucang javanicus, sesuai dengan namanya penyebarannya di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada sub spesies lainnya, dengan corak yang tebal pada bagian dorsal (punggung) yang menjadikan perbedaan yang cukup mencolok.
Di Indonesia belum ditemui adanya skema pasti mengenai keberadaan dan distribusi satwa ini. Penduduk lokal bahkan kerap kali keliru menganalogikannya dengan kus-kus. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam penyampaian informasi.
Perilaku
Seperti yang telah dikemukakan di atas, sedikit sekali penelitian khususnya mengenai perilaku kukang di habitat alaminya. Kecenderungan sebagai primata nocturnal (aktif malam hari) dan arboreal (berada di atas pohon) yang membuat mereka sebagai objek yang cukup sulit untuk diteliti.
Kukang terkenal dengan kehidupan malamnya (nocturnal) dan memakan beberapa buah-buahan dan sayuran, juga beberapa insecta, ma- mmalia kecil dan bahkan burung. Umumnya mereka meraih makanan de- ngan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi ta- ngannya dan menjiltinya.
Layaknya hewan-hewan nocturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan diantara kedua lutut/ekstrimitasnya.
Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakkukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya, pergerakan seperti ini disebut dengan quadropedal ke segala arah baik itu peregrakan vertical ataupun horizontal (climbing). Pada hewan-hewan yang hidup di penangkaran, mereka bergerak memanjat dan mengitari kandang disebut denan aksplorasi. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya di alam, kukang yang hidup di penangkaran pun menciumi segala sesuatu / objek yang ditemuinya serta melakukan penandaan / marking dengan urine.
Berdasarkan rekaman hasil penelitian di lapangan,diketahui bahwa kukang hidup secara soliter, walaupun di beebrapa saat ditemui adanya interaksi namun tidak lebih sebatas fase tahapan reproduksi. Masa estrus pada kukang berkisar antara 30-40 hari. Pada hewan betina, jika memasuki masa estrus maka akan lebih sering mengeluarkan suara / vokalisasi berupa siulan. Selain itu, terjadi pembengkakan pada area genitalianya. Jika jantan men dengarkan dan tertarik akan siulan betina, maka jantan kemudian mendekati betina dan me- ngadakan kopulasi. Masa kehamilan atau gestation periode selama 176 sampai 198 hari atau kurang lebih selama 6 bulan.
Status
Sejauh ini, kukang dikategorikan sebagai satwa yang rentan terhadap kepunahan (Vulnarable) berdasarkan IUCN dan termasuk ke dalam Appendix II, CITES. Walaupun demikian, namun pada kenyataannya masih banyak kukang yang didapati dipelihara bahkan diperjual belikan di pasaran. Selain itu, pembukaan lahan dan praktek illegal logging yang semakin marak juga memicu hilangnya habitat alami satwa ini. Akankah kita hanya menanti dan tetap berdiam diri untuk menyaksikan kukang yang begitu indah ini masuk ke dalam kategori Punah? Oleh karena itu, kita sebagai insan yang diberi akal dan budi pekerti dari Tuhan YME selayaknya ikut berpartisipasi dalam tindakan yang nyata guna menahan bahkan menghentikan laju pengrusakan dan perburuan keanekargaman hayati yang kita miliki, karena Konservasi itu untuk semua.
(dikutip dari berbagai sumber). By : Vina / NEF Scholarship
Wednesday, January 28, 2009
Taman Nasional Gunung Merapi
Taman Nasional Gunung Merapi merupakan kawasan dengan ekosistem yang spesifik, yaitu kawasan hutan tropis dengan nuansa volkan (dipengaruhi oleh adanya aktivitas gunung berapi). Karakteristik ekosistemnya memiliki berbagai variasi, mulai dari ekosistem montana, tropical montain forest, hutan sekunder, hingga hutan tanaman.
Gunung Merapi merupakan kawasan unik dengan ke- khasan geosystem, biosystem dan sociosystem. Kawasan ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai sumber air bersih, sumber udara bersih dan kenyamanan lingkungan. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air dengan beberapa hulu sungai yang mengairi tidak saja kawasan Merapi, tetapi kawasan lain di bawahnya, sehingga Gunung Merapi sering disebut sebagai "Jantung atau Nyawa" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara sosio kultural Gunung Merapai dipercayai memiliki keterkaitan secara supranatural dengan masyarakat Gunung Merapi. Sehingga banyak upacara ri- tual yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan Gunung Merapi.
Sejak tahun 2004, Menteri Kehutanan merubah fungsi kawasan Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada kelompok hutan Gunung Merapi seluas ± 6.410 hektar, yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten, Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Taman Nasional Gunung Merapi.
Fisik
Secara geologis, wilayah Taman Nasional Gunung Merapi terletak pada perpotongan antara dua sesar, yaitu sesar transversal dan sesar longitudinal Pulau Jawa, dan batuan utama penyusun Gunung Merapi terdiri dan 2 fase, yaitu :
1. endapan vulkanik Gunung Merapi Muda, yang tersusun oleh tufa, lahar, breksi, dan lava andesitis hingga basaltis yang penyebarannya merata di seluruh wilayah Gunung Merapi.
2. endapan vulkanik kwarter tua yang terdapat secara lokal pada topografi perbukitan kecil di sekitar Gunung Merapi Muda, yang merupakan bagian dari aktivitas Gunung Merapi Tua, yaitu terdapat di bukit Gono, Turgo, Plawangan, Maron dan dinding bagian timur kawah Gunung api Merapi (Geger Boyo).
Topografi
Bentuk bentang lahan yang ada sangat khas, yaitu puncak Merapi dengan lerengnya yang menuju ke segala arah dengan lereng yang sangat curam di wilayah yang dekat dengan puncak dan semakin melandai kearah bawah. Le- reng Merapi bagian timur (Selo) relatif lebih terjal, sementara di bagian barat dan utara (Babadan, Kinahrejo) relatif lebih landai. Arah letusan gunung api sangat jarang menuju ke timur, yang paling sering menuju ke arah barat daya. Proses letusan sering terjadi, dan lereng barat sering menerima dampak letusan, sehingga lereng barat akan semakin landai.
Wilayah puncak Gunung Merapi sampai ke- tinggian 1.500 m dpl, merupakan daerah terjal dengan kemiringan lebih dari 30º. Wilayah yang paling luas adalah kawasan dengan kemiringan 12º - 30º terletak pada ketinggian 750 - 1.500 m dpl, dan daerah inilah yang merupakan daerah resapan air.
Iklim
Tipe iklim berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim C atau agak basah. Curah hujan bervariasi de- ngan curah hujan terendah sebesar 875 mm/tahun dan curah hujan tertinggi sebesar 2527 mm per tahun. Bulan basah terjadi pada bulan November sampai dengan Mei sedangkan bulan kering terjadi pada bulan Juni sampai dengan Oktober.
Hidrologi
Secara umum di wilayah Gunung Merapi terdapat 3 Daerah aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Progo (bagian barat), DAS Opak (bagian tengah) dan DAS Bengawan Solo (bagian timur). Sistem sungai yang terbentuk oleh ketiga sungai besar tersebut akan membentuk tiga bagian pola aliran sungai sebagai berikut :
a. Berawal dari kerucut Gunung Merapi, anak-anak sungai menyebar membentuk pola aliran radial centrifugal.
b. Di bagian lereng kaki gunung, anak-anak sungai tersebut mengalir relatif sejajar menuruni lereng, membentuk pola sub parallel.
c. Seluruh anak sungai, masuk ke sungai utamanya di dataran alluvial kaki lereng volkanik yang membentuk pola aliran sub dendritik.
Kawasan ini juga merupakan kawasan dengan cadangan air tanah yang melimpah dan banyak dijumpai mata air yang banyak dimanfaatkan untuk irigasi, perkebunan, peternakan, perikanan, obyek wisata dan juga untuk air kemasan.
Biotik
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki tiga zona penyusun vegetasi, yaitu :
1. Zona atas; pada zona ini berlangsung proses xyrocere, yaitu suksesi primer yang terjadi pada hutan batuan kering, sehingga vegetasinya didominasi jenis lumut, rerumputan, herba dan perdu.
2. Zona tengah, merupakan hutan alam pegunungan tropis (Tropical mountain forest).
3. Zona bawah, merupakan zona interaksi antara manusia dan alam yang vegetasinya didominasi oleh tanaman de- ngan pola agroforestry, yang meliputi agroforestry pola rumput-rumputan, pola komoditi komersial, pola holtikultura, pola pangan dan pola kayu-kayuan.
Flora
Pada kawasan hutan Gunung Merapi dijumpai ± 72 jenis flora. Hutan primernya didominasi oleh jenis serangan (Castanopsis argentia), hutan sekunder dan hutan tanamannya didominasi oleh jenis puspa (Schima walichii) dan pinus (Pinus merkusii). Disamping itu pada kawasan hutan ini dijumpai jenis anggrek endemik dan langka, yaitu Vanda tricolor.
Jenis anggrek yang ada di kawasan ini tidak kurang dari 47 jenis, antara lain Dendrobium saggitatum, D. crumenatum, Eria retusa, Oboronia similis, dan Spathoglottis plicata.
Jenis-jenis lainnya, antara lain Acacia decurens, Bambusa spp, Albizia spp, Euphatorium inufolium, Lithocarpus elegans, Leucena galuca, L. leucoocephla, Hibiscus tiliaceus, Arthocarpus integra, Casuarina sp, Syzygium aromaticum, Melia azadirachta, Erytrina variegata, dan Ficus alba.
Disamping itu terdapat jenis tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti jenis rumput, Imperata cylindrica, Panicum reptans, Antraxon typicus dan Pogonatherum paniceum.
Fauna
Potensi fauna di kawasan Gunung Merapi mencakup mamalia, reptil dan burung.
Mamalia; beberapa jenis diantaranya, yaitu macan tutul (Panthera pardus), kucing besar (Felis sp), musang (Paradoxurus hermaprodus), bajing (Laricus insignis), bajing kelapa (Colosciurus notatusi), kera ekor panjang (Macaca fascilcularis), lutung kelabu (Presbytis fredericae), babi hutan (sus scrofa , S. vittatus), kijang (Muntiacus muntjak), dan rusa (Cervus timorensis).
Burung; Hasil inventarisasi tahun 2001 diketahui bahwa kawasan Gunung Merapi memiliki 99 jenis burung. Beberapa diantaranya memiliki status endemik, antara lain elang jawa (Spizaetus bartelsi), bondol jawa (Lonchura leucogastroides), burung madu jawa (Aethopyga mystacalis), burung madu gunung (A. eximia), cabai gunung (Dicaeum sanguinolenium), cekakak gunung (Halcyon cyanoventris), Gemak (Turnix silvatica) dan serindit jawa (Loriculus pusilus). Beberapa jenis lainnya, seperti elang hitam (Ictinaetus malayensis), jalak suren (Strurnus contra), betet (Psittacula alexandri), alap-alap macan (Falco severus) , elang bido (Spilornis cheela), dan walet gunung (Collocalia volcanorum).
Reptil; Jenis reptil, antara lain ular sowo (Dytas coros), ular gadung (Trimeresurus albobabris) dan bunglon (Goneocephalus sp.)
Wisata
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi wisata bernuansa volkan yang sangat luar biasa. Beberapa tempat dan atraksi yang dapat dinikmati dan dikembangkan di kawasan ini, antara lain; Kawasan puncak merapi, atraksi panorama air terjun yang indah, area Jalur Treking Kinahrejo, arsitektur tradisional Jawa dan lain-lain.
Pengelolaan
Taman Nasional Gunung Merapi adalah taman nasional yang baru saja ditunjuk pada tahun 2004 lalu, sehingga belum memiliki unit pengelola sendiri dan pengelolaannya masih dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam DI Yogyakarta, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Sementara ini, obyek-obyek wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Merapi dikelola oleh berbagai instansi meliputi Dinas pariwisata, Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, Swasta, dan masyarakat/Desa.
Dikutip dari berbagai sumber (Habarudin Aco/Staff LEMBAR Indonesia).
Gunung Merapi merupakan kawasan unik dengan ke- khasan geosystem, biosystem dan sociosystem. Kawasan ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai sumber air bersih, sumber udara bersih dan kenyamanan lingkungan. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air dengan beberapa hulu sungai yang mengairi tidak saja kawasan Merapi, tetapi kawasan lain di bawahnya, sehingga Gunung Merapi sering disebut sebagai "Jantung atau Nyawa" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara sosio kultural Gunung Merapai dipercayai memiliki keterkaitan secara supranatural dengan masyarakat Gunung Merapi. Sehingga banyak upacara ri- tual yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan Gunung Merapi.
Sejak tahun 2004, Menteri Kehutanan merubah fungsi kawasan Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada kelompok hutan Gunung Merapi seluas ± 6.410 hektar, yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten, Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Taman Nasional Gunung Merapi.
Fisik
Secara geologis, wilayah Taman Nasional Gunung Merapi terletak pada perpotongan antara dua sesar, yaitu sesar transversal dan sesar longitudinal Pulau Jawa, dan batuan utama penyusun Gunung Merapi terdiri dan 2 fase, yaitu :
1. endapan vulkanik Gunung Merapi Muda, yang tersusun oleh tufa, lahar, breksi, dan lava andesitis hingga basaltis yang penyebarannya merata di seluruh wilayah Gunung Merapi.
2. endapan vulkanik kwarter tua yang terdapat secara lokal pada topografi perbukitan kecil di sekitar Gunung Merapi Muda, yang merupakan bagian dari aktivitas Gunung Merapi Tua, yaitu terdapat di bukit Gono, Turgo, Plawangan, Maron dan dinding bagian timur kawah Gunung api Merapi (Geger Boyo).
Topografi
Bentuk bentang lahan yang ada sangat khas, yaitu puncak Merapi dengan lerengnya yang menuju ke segala arah dengan lereng yang sangat curam di wilayah yang dekat dengan puncak dan semakin melandai kearah bawah. Le- reng Merapi bagian timur (Selo) relatif lebih terjal, sementara di bagian barat dan utara (Babadan, Kinahrejo) relatif lebih landai. Arah letusan gunung api sangat jarang menuju ke timur, yang paling sering menuju ke arah barat daya. Proses letusan sering terjadi, dan lereng barat sering menerima dampak letusan, sehingga lereng barat akan semakin landai.
Wilayah puncak Gunung Merapi sampai ke- tinggian 1.500 m dpl, merupakan daerah terjal dengan kemiringan lebih dari 30º. Wilayah yang paling luas adalah kawasan dengan kemiringan 12º - 30º terletak pada ketinggian 750 - 1.500 m dpl, dan daerah inilah yang merupakan daerah resapan air.
Iklim
Tipe iklim berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim C atau agak basah. Curah hujan bervariasi de- ngan curah hujan terendah sebesar 875 mm/tahun dan curah hujan tertinggi sebesar 2527 mm per tahun. Bulan basah terjadi pada bulan November sampai dengan Mei sedangkan bulan kering terjadi pada bulan Juni sampai dengan Oktober.
Hidrologi
Secara umum di wilayah Gunung Merapi terdapat 3 Daerah aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Progo (bagian barat), DAS Opak (bagian tengah) dan DAS Bengawan Solo (bagian timur). Sistem sungai yang terbentuk oleh ketiga sungai besar tersebut akan membentuk tiga bagian pola aliran sungai sebagai berikut :
a. Berawal dari kerucut Gunung Merapi, anak-anak sungai menyebar membentuk pola aliran radial centrifugal.
b. Di bagian lereng kaki gunung, anak-anak sungai tersebut mengalir relatif sejajar menuruni lereng, membentuk pola sub parallel.
c. Seluruh anak sungai, masuk ke sungai utamanya di dataran alluvial kaki lereng volkanik yang membentuk pola aliran sub dendritik.
Kawasan ini juga merupakan kawasan dengan cadangan air tanah yang melimpah dan banyak dijumpai mata air yang banyak dimanfaatkan untuk irigasi, perkebunan, peternakan, perikanan, obyek wisata dan juga untuk air kemasan.
Biotik
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki tiga zona penyusun vegetasi, yaitu :
1. Zona atas; pada zona ini berlangsung proses xyrocere, yaitu suksesi primer yang terjadi pada hutan batuan kering, sehingga vegetasinya didominasi jenis lumut, rerumputan, herba dan perdu.
2. Zona tengah, merupakan hutan alam pegunungan tropis (Tropical mountain forest).
3. Zona bawah, merupakan zona interaksi antara manusia dan alam yang vegetasinya didominasi oleh tanaman de- ngan pola agroforestry, yang meliputi agroforestry pola rumput-rumputan, pola komoditi komersial, pola holtikultura, pola pangan dan pola kayu-kayuan.
Flora
Pada kawasan hutan Gunung Merapi dijumpai ± 72 jenis flora. Hutan primernya didominasi oleh jenis serangan (Castanopsis argentia), hutan sekunder dan hutan tanamannya didominasi oleh jenis puspa (Schima walichii) dan pinus (Pinus merkusii). Disamping itu pada kawasan hutan ini dijumpai jenis anggrek endemik dan langka, yaitu Vanda tricolor.
Jenis anggrek yang ada di kawasan ini tidak kurang dari 47 jenis, antara lain Dendrobium saggitatum, D. crumenatum, Eria retusa, Oboronia similis, dan Spathoglottis plicata.
Jenis-jenis lainnya, antara lain Acacia decurens, Bambusa spp, Albizia spp, Euphatorium inufolium, Lithocarpus elegans, Leucena galuca, L. leucoocephla, Hibiscus tiliaceus, Arthocarpus integra, Casuarina sp, Syzygium aromaticum, Melia azadirachta, Erytrina variegata, dan Ficus alba.
Disamping itu terdapat jenis tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti jenis rumput, Imperata cylindrica, Panicum reptans, Antraxon typicus dan Pogonatherum paniceum.
Fauna
Potensi fauna di kawasan Gunung Merapi mencakup mamalia, reptil dan burung.
Mamalia; beberapa jenis diantaranya, yaitu macan tutul (Panthera pardus), kucing besar (Felis sp), musang (Paradoxurus hermaprodus), bajing (Laricus insignis), bajing kelapa (Colosciurus notatusi), kera ekor panjang (Macaca fascilcularis), lutung kelabu (Presbytis fredericae), babi hutan (sus scrofa , S. vittatus), kijang (Muntiacus muntjak), dan rusa (Cervus timorensis).
Burung; Hasil inventarisasi tahun 2001 diketahui bahwa kawasan Gunung Merapi memiliki 99 jenis burung. Beberapa diantaranya memiliki status endemik, antara lain elang jawa (Spizaetus bartelsi), bondol jawa (Lonchura leucogastroides), burung madu jawa (Aethopyga mystacalis), burung madu gunung (A. eximia), cabai gunung (Dicaeum sanguinolenium), cekakak gunung (Halcyon cyanoventris), Gemak (Turnix silvatica) dan serindit jawa (Loriculus pusilus). Beberapa jenis lainnya, seperti elang hitam (Ictinaetus malayensis), jalak suren (Strurnus contra), betet (Psittacula alexandri), alap-alap macan (Falco severus) , elang bido (Spilornis cheela), dan walet gunung (Collocalia volcanorum).
Reptil; Jenis reptil, antara lain ular sowo (Dytas coros), ular gadung (Trimeresurus albobabris) dan bunglon (Goneocephalus sp.)
Wisata
Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi wisata bernuansa volkan yang sangat luar biasa. Beberapa tempat dan atraksi yang dapat dinikmati dan dikembangkan di kawasan ini, antara lain; Kawasan puncak merapi, atraksi panorama air terjun yang indah, area Jalur Treking Kinahrejo, arsitektur tradisional Jawa dan lain-lain.
Pengelolaan
Taman Nasional Gunung Merapi adalah taman nasional yang baru saja ditunjuk pada tahun 2004 lalu, sehingga belum memiliki unit pengelola sendiri dan pengelolaannya masih dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam DI Yogyakarta, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Sementara ini, obyek-obyek wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Merapi dikelola oleh berbagai instansi meliputi Dinas pariwisata, Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, Swasta, dan masyarakat/Desa.
Dikutip dari berbagai sumber (Habarudin Aco/Staff LEMBAR Indonesia).
si Huna dari air tawar
Huna atau disebut juga Freshwater Crayfish (di Indonesia disebut Lobster Air Tawar), mempunyai sebaran yang sangat luas hampir di seluruh dunia. Keanekaragaman jenis huna mencakup kurang lebih 500 spesies yang terbagi dalam tiga famili, yaitu Astacidae dan Cambaridae di belahan dunia bagian Utara, serta Parastacidae di belahan dunia bagian Selatan.
Jenis Cherax tersebar hampir di seluruh Australia dan Papua Nugini. Dari jenis Cherax terapat 3 huna komersial, yaitu : yabby (Cherax destructor), redclaw (Cherax quadricarinatus, Von Martens) , dan maroon (Cherax tenuimanus). Di Papua Nugini terdapat jenis-jenis huna yang hidup di aliran-aliran sungai Lembah Baliem, antara lain Huna Biru (Cherax albertisi) , C. lorentzi, C. monticola dan C. Lakembutu.
Klasifikasi Huna
Klasifikasi Huna adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthopoda
Sub phylum : Mandibulata
Classis : Crustacea
Sub classic : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Parastacidae
Genus : Cherax
Species : Cherax quadricarinatus
Cherax albertisi
Morfologi Huna
Huna mempunyai morfologi seperti udang. Badan huna terbagi menjadi 2 bagian yaitu Cephallothorax, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat sepasang antena dan sepasang antennula yang berfungsi sebagai reseptor, sepasang mata dan rostrum yang terletak pada bagian anterior. Huna juga mempunyai cangkang keras yang mengandung kalsium.
Pakan Huna
Huna merupakan hewan omnivora atau pemakan tumbuhan dan hewan. Pada habitatnya aslinya, huna menyukai cacing, udang-udangan kecil, larva serangga, keong-keong yang kecil, daun tanaman air yang lunak, plankton dan detritus.
Pada huna betina terdapat brood chamber yang berfungsi sebagai ruang penetasan telur, pada bagian kaki renangpun terdapat bulu-bulu kecil halus, yang berfungsi sebagai tempat melekatnya telur oleh karena itu selama masa breeding huna betina tidak banyak melakukan aktivitas. Pada bagian ekor terdapat dua pasang sirip ekor (uropoda) yang berfungsi untuk mengayuh dan telson yang terletak pada bagian tengah dari ekor.
Huna mempunyai ciri perbedaan antara kelamin jantan dan betina, yaitu pada huna jantan terdapat tonjolan pada kaki ke 4, sedangkan pada huna betina terdapat sepasang bulatan pada kaki jalan ke 3 yang merupakan tempat keluarnya telur
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Pertumbuhan huna mulai dari larva benih sampai tingkat juwana (dewasa) memiliki kesamaan morfologi. Larva huna sudah memiliki karakteristik berupa capit dan karapas yang keras, serta sifat kanibalisme, sehingga pada stadium larvapun huna sudah dapat dibedakan dengan jenis udang air tawar lainnya. Huna mengalami empat fase kehidupan yaitu, telur, pasca larva, juvenil dan juwana (induk). Huna memijah pada malam hari pada saat suasana tenang dan tidak ada gangguan. Kondisi ini sesuai dengan sifat huna yang nocturnal.
Huna memiliki memiliki siklus bertelur 4 kali dalam setahun, sekali bertelur induk betina berukuran 15 cm memiliki fekunditas (potensi jumlah telur) antara 300-500 butir. Pada hari pertama telur diletakkan pada brood chamber, telur berwarna kuning muda, 14 hari kemudian telur berubah warna menjadi kuning sindur sebagai tanda perkembangan embrio, menginjak minggu ketiga telur berubah warna menjadi merah muda, dan akhirnya pada minggu keempat menjadi merah tua sampai kecoklatan. Pada akhir minggu keempat telur mulai menetas menghasikan pasca larva (PL) yang sudah menyerupai huna dewasa.
Pasca larva mengalami ganti kulit beberapa kali, karena harus bertubuh dan berkembang menjadi dewasa sedang di sisi lain kulitnya yang terdiri dari bahan kitin tidak dapat berkembang mengikuti perubahan ukuran tubuh. Proses ganti kulit (moulting) diawali dengan robeknya kulit lama pada bagian punggung ruas pertama abdomen persis di belakang cephallothorax . Tubuh yang dibalut kulit baru yang terus berkembang memperbesar robekan tersebut sehingga cephallothorax lama pecah dan cephallothorax baru keluar , dengan meggunakan kaki jalan yang sudah keluar dari kulit lama dengan bergerak menarik bagian abdomen dari balutan kulit lama
Proses pergantian kulit mengalami kegagalan pada saat pengeluaran cephallothorax baru apabila huna tidak cukup mendapat makanan sebelum proses ganti kulit berlangsung. Kegagalan ganti kulit selalu diikuti dengan kematian. (Di kutip dari berbagai sumber).
By : Gumilar / Volunteer LEMBAR Indonesia.
Jenis Cherax tersebar hampir di seluruh Australia dan Papua Nugini. Dari jenis Cherax terapat 3 huna komersial, yaitu : yabby (Cherax destructor), redclaw (Cherax quadricarinatus, Von Martens) , dan maroon (Cherax tenuimanus). Di Papua Nugini terdapat jenis-jenis huna yang hidup di aliran-aliran sungai Lembah Baliem, antara lain Huna Biru (Cherax albertisi) , C. lorentzi, C. monticola dan C. Lakembutu.
Klasifikasi Huna
Klasifikasi Huna adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthopoda
Sub phylum : Mandibulata
Classis : Crustacea
Sub classic : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Parastacidae
Genus : Cherax
Species : Cherax quadricarinatus
Cherax albertisi
Morfologi Huna
Huna mempunyai morfologi seperti udang. Badan huna terbagi menjadi 2 bagian yaitu Cephallothorax, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat sepasang antena dan sepasang antennula yang berfungsi sebagai reseptor, sepasang mata dan rostrum yang terletak pada bagian anterior. Huna juga mempunyai cangkang keras yang mengandung kalsium.
Pakan Huna
Huna merupakan hewan omnivora atau pemakan tumbuhan dan hewan. Pada habitatnya aslinya, huna menyukai cacing, udang-udangan kecil, larva serangga, keong-keong yang kecil, daun tanaman air yang lunak, plankton dan detritus.
Pada huna betina terdapat brood chamber yang berfungsi sebagai ruang penetasan telur, pada bagian kaki renangpun terdapat bulu-bulu kecil halus, yang berfungsi sebagai tempat melekatnya telur oleh karena itu selama masa breeding huna betina tidak banyak melakukan aktivitas. Pada bagian ekor terdapat dua pasang sirip ekor (uropoda) yang berfungsi untuk mengayuh dan telson yang terletak pada bagian tengah dari ekor.
Huna mempunyai ciri perbedaan antara kelamin jantan dan betina, yaitu pada huna jantan terdapat tonjolan pada kaki ke 4, sedangkan pada huna betina terdapat sepasang bulatan pada kaki jalan ke 3 yang merupakan tempat keluarnya telur
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Pertumbuhan huna mulai dari larva benih sampai tingkat juwana (dewasa) memiliki kesamaan morfologi. Larva huna sudah memiliki karakteristik berupa capit dan karapas yang keras, serta sifat kanibalisme, sehingga pada stadium larvapun huna sudah dapat dibedakan dengan jenis udang air tawar lainnya. Huna mengalami empat fase kehidupan yaitu, telur, pasca larva, juvenil dan juwana (induk). Huna memijah pada malam hari pada saat suasana tenang dan tidak ada gangguan. Kondisi ini sesuai dengan sifat huna yang nocturnal.
Huna memiliki memiliki siklus bertelur 4 kali dalam setahun, sekali bertelur induk betina berukuran 15 cm memiliki fekunditas (potensi jumlah telur) antara 300-500 butir. Pada hari pertama telur diletakkan pada brood chamber, telur berwarna kuning muda, 14 hari kemudian telur berubah warna menjadi kuning sindur sebagai tanda perkembangan embrio, menginjak minggu ketiga telur berubah warna menjadi merah muda, dan akhirnya pada minggu keempat menjadi merah tua sampai kecoklatan. Pada akhir minggu keempat telur mulai menetas menghasikan pasca larva (PL) yang sudah menyerupai huna dewasa.
Pasca larva mengalami ganti kulit beberapa kali, karena harus bertubuh dan berkembang menjadi dewasa sedang di sisi lain kulitnya yang terdiri dari bahan kitin tidak dapat berkembang mengikuti perubahan ukuran tubuh. Proses ganti kulit (moulting) diawali dengan robeknya kulit lama pada bagian punggung ruas pertama abdomen persis di belakang cephallothorax . Tubuh yang dibalut kulit baru yang terus berkembang memperbesar robekan tersebut sehingga cephallothorax lama pecah dan cephallothorax baru keluar , dengan meggunakan kaki jalan yang sudah keluar dari kulit lama dengan bergerak menarik bagian abdomen dari balutan kulit lama
Proses pergantian kulit mengalami kegagalan pada saat pengeluaran cephallothorax baru apabila huna tidak cukup mendapat makanan sebelum proses ganti kulit berlangsung. Kegagalan ganti kulit selalu diikuti dengan kematian. (Di kutip dari berbagai sumber).
By : Gumilar / Volunteer LEMBAR Indonesia.
Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove
Pelatihan pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan untuk penyuluh, staff dinas kehutanan/perikanan/pertanian dan LSM seluruh Indonesia periode 2007 yang dilaksanakan di Denpasar, Bali berjalan lancar sampai akhir kegiatan. Dari hasil pelatihan tersebut secara pribadi banyak hal yang diperoleh baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman. Banyak ilmu baru yang didapat khususnya tentang mangrove.
Selama pelatihan kita dibekali berbagai materi dan informasi seputar mangrove mulai dari pengenalan jenis, pemanfaatan, hukum dan perundang-undangan, inventarisasi dan teknik rehabilitasi. Seluruh materi yang diberikan diarahkan sesuai dengan tema pelatihan yaitu pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Balai Penge- lolaan Hutan Mangrove (BPHM) wilayah 1 yang bekerjasama dengan Mangrove Information Center (MIC) JICA. Pelatihan ini merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh BPHM dalam mendukung program kerja dan misi yang diemban dalam pelestarian hutan mangrove.
Program ini sudah berjalan yang ke empat kalinya dan yang terakhir dilaksanakan yaitu pada tanggal 4-10 Juli 2007 di Denpasar, Bali.
Selain materi teori yang diberikan ada juga materi praktek di lapangan (field trip) dan kunjungan lapang. Pada kesempatan kali ini kita diajak mengunjungi sebuah instansi pemerintah yaitu Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang terletak di Lagoon Nusa Dua. Instansi ini mengolah air buangan/limbah rumah tangga, pabrik dan hotel yang nantinya akan disalurkan lagi ke rumah tangga, pabrik dan perhotelan. Kemudian kita di- ajak ke Bali Bird Park yaitu taman burung yang menyajikan berbagai jenis burung-burung langka, ada hal yang menarik dimana setiap pengunjung tidak akan mau ketinggalan momen ini yaitu atraksi burung. Burung-burung ini menurut semua apa yang diperintahkan keepernya.
Ada beberapa hal yang menarik berdasarkan pengamatan pribadi saya bahwa setiap melakukan kunjungan keobjek wisata/nonwisata kita selalu didampingi oleh pemandu (guider) yang melayani kita semaksimal mungkin dan setiap pengemudi (driver) yang membawa kita khusus di servis oleh pihak pengelola objek wisata. Hal ini salah satunya yang membedakan Bali dengan daerah lain karena selain keramahan para penduduknya struktur budayanya menjadi daya tarik tersendiri.
Habitat dengan ciri tersebut dapat ditemukan di daerah-daerah pantai yang dangkal dan landai serta di muara sungai. Jika posisi pantai dan muara sungainya terlindung dari gempuran ombak yang ganas, maka hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping komunitas tumbuhan mangrove, ekosistem ini juga memiliki keanekaragaman fauna yang cukup tinggi, baik invertebrate maupun vertebrata. Tidak berbeda dengan vegetasinya, fauna mangrove memiliki kemampuan adaptasi tertentu terhadap kondisi lingkungannya.
Berdasarkan pengamatan selama pelatihan bahwa BPHM selalu disibukkan dan tak henti-hentinya menerima para pengunjung dari segala lapisan masyarakat sekadar untuk melihat kawasan hutan mangrove yang cukup menarik dan kondisi yang masih bagus serta terawat dengan baik.
Tanpa kita sadari bahwa ternyata mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan, yaitu sebagai penahan gelombang dan arus laut, tempat berkembangbiaknya berbagai macam hewan laut maupun darat.
Semakin bagus kondisi mangrovenya maka semakin kecil tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat terpaan gelombang air laut. Dengan adanya pelatihan ini membuat kita semakin termotivasi untuk melestarikan sumberdaya alam yang ada untuk generasi penerus kelak.
Selain ilmu yang kita dapat, ikatan ukhuwah semakin erat. Tak terpikirkan sebelumnya saya dapat bertemu teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki berbagai keunikan dengan gaya bicara mereka, bahasa, warna kulit dan paras khas daerah masing-masing. Kemajemukan itu membuat kita semakin erat.
Dengan adanya pelatihan ini semua peserta khususnya merasa senang, karena belum tentu semua orang bisa mengalaminya. Apalagi diadakannya di Bali yang terkenal dengan objek wisatanya yang kesohor ke belahan dunia. Itu semua merupakan nilai tambah bagi kita semua. Pelatihan ini berjalan dengan sukses karena dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak.
Banyak jenis-jenis mangrove yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Ternyata mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang besar, sebagai contoh ada beberapa jenis mangrove dari famili Rhizophora yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan (di daerah Bali dimanfaatkan sebagai campuran nasi). Tempat mencari makan berbagai biota laut maupun darat. Sebagian besar banyak biota laut dan darat memiliki ketergantungan terhadap mangrove. Sebagai penahan dari gelombang air laut dan ombak besar, mencegah pengikisan tanah oleh air laut dan masih banyak yang lain-lainnya.
Pelayanan dan perhatian pihak penyelenggara terhadap para peserta sangat baik, begitu pula sebaliknya. Dibuktikan dengan adanya interaksi, komunikasi yang begitu dekat seolah-olah dirasa sebagai teman lama yang pernah kita kenal. Hal seperti ini memang perlu adanya karena dapat meningkatkan semangat dan ikatan emosional antara individu sehingga semua acara dan kegiatan terlaksana dengan lancar tanpa kurang suatu apapun.
Selain itu pelayanan akomodasi yang disediakan juga cukup memadai. Lokasi yang dekat dengan tempat pelatihan dan pelayanan pihak wisma tempat kita me- nginap yang ramah dan santun.
Dari berbagai materi yang didapat selama pelatihan ada salah satu materi yang cukup menarik perhatian yaitu materi field trip (fraktek lapang) dimana peserta diajak berkeliling disekitar kawasan mangrove (mangrove information center) dikenalkan langsung dengan berbagai jenis mangrove di alam dan mempelajari perbedaan jenis serta habitat dari mangrove. Kemudian dikenalkan dengan fauna penghuni kawasan mangrove.
Selain materi yang diberikan cukup menarik, para pengajarnya juga berkompeten serta kepanitian pihak penyelenggara yang solid dan pengertian. Membuat suasana pelatihan semakin menarik dan mengasyikkan. Sehingga waktu berlalu terasa begitu cepat membuat para peserta semakin asyik menikmati hari-hari terakhir menjelang kepulangan ke daerah masing-masing.
Dari segi pengalaman tentunya banyak pengalaman yang menarik didapat dari hasil pelatihan. Banyak teman dan kenalan baru dari berbagai daerah dengan karakter yang berbeda-beda. Banyak mengenal dan tahu beberapa lokasi pariwisata dan tempat-tempat umum lainnya yang ada di Bali. Dengan begitu secara tidak langsung kita mengetahui adat dan budaya serta kehidupan sosial masyarakat pulau Dewata.
By : Dase Suherman / Staff LEMBAR Indonesia
Selama pelatihan kita dibekali berbagai materi dan informasi seputar mangrove mulai dari pengenalan jenis, pemanfaatan, hukum dan perundang-undangan, inventarisasi dan teknik rehabilitasi. Seluruh materi yang diberikan diarahkan sesuai dengan tema pelatihan yaitu pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Balai Penge- lolaan Hutan Mangrove (BPHM) wilayah 1 yang bekerjasama dengan Mangrove Information Center (MIC) JICA. Pelatihan ini merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh BPHM dalam mendukung program kerja dan misi yang diemban dalam pelestarian hutan mangrove.
Program ini sudah berjalan yang ke empat kalinya dan yang terakhir dilaksanakan yaitu pada tanggal 4-10 Juli 2007 di Denpasar, Bali.
Selain materi teori yang diberikan ada juga materi praktek di lapangan (field trip) dan kunjungan lapang. Pada kesempatan kali ini kita diajak mengunjungi sebuah instansi pemerintah yaitu Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang terletak di Lagoon Nusa Dua. Instansi ini mengolah air buangan/limbah rumah tangga, pabrik dan hotel yang nantinya akan disalurkan lagi ke rumah tangga, pabrik dan perhotelan. Kemudian kita di- ajak ke Bali Bird Park yaitu taman burung yang menyajikan berbagai jenis burung-burung langka, ada hal yang menarik dimana setiap pengunjung tidak akan mau ketinggalan momen ini yaitu atraksi burung. Burung-burung ini menurut semua apa yang diperintahkan keepernya.
Ada beberapa hal yang menarik berdasarkan pengamatan pribadi saya bahwa setiap melakukan kunjungan keobjek wisata/nonwisata kita selalu didampingi oleh pemandu (guider) yang melayani kita semaksimal mungkin dan setiap pengemudi (driver) yang membawa kita khusus di servis oleh pihak pengelola objek wisata. Hal ini salah satunya yang membedakan Bali dengan daerah lain karena selain keramahan para penduduknya struktur budayanya menjadi daya tarik tersendiri.
Habitat dengan ciri tersebut dapat ditemukan di daerah-daerah pantai yang dangkal dan landai serta di muara sungai. Jika posisi pantai dan muara sungainya terlindung dari gempuran ombak yang ganas, maka hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping komunitas tumbuhan mangrove, ekosistem ini juga memiliki keanekaragaman fauna yang cukup tinggi, baik invertebrate maupun vertebrata. Tidak berbeda dengan vegetasinya, fauna mangrove memiliki kemampuan adaptasi tertentu terhadap kondisi lingkungannya.
Berdasarkan pengamatan selama pelatihan bahwa BPHM selalu disibukkan dan tak henti-hentinya menerima para pengunjung dari segala lapisan masyarakat sekadar untuk melihat kawasan hutan mangrove yang cukup menarik dan kondisi yang masih bagus serta terawat dengan baik.
Tanpa kita sadari bahwa ternyata mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan, yaitu sebagai penahan gelombang dan arus laut, tempat berkembangbiaknya berbagai macam hewan laut maupun darat.
Semakin bagus kondisi mangrovenya maka semakin kecil tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat terpaan gelombang air laut. Dengan adanya pelatihan ini membuat kita semakin termotivasi untuk melestarikan sumberdaya alam yang ada untuk generasi penerus kelak.
Selain ilmu yang kita dapat, ikatan ukhuwah semakin erat. Tak terpikirkan sebelumnya saya dapat bertemu teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki berbagai keunikan dengan gaya bicara mereka, bahasa, warna kulit dan paras khas daerah masing-masing. Kemajemukan itu membuat kita semakin erat.
Dengan adanya pelatihan ini semua peserta khususnya merasa senang, karena belum tentu semua orang bisa mengalaminya. Apalagi diadakannya di Bali yang terkenal dengan objek wisatanya yang kesohor ke belahan dunia. Itu semua merupakan nilai tambah bagi kita semua. Pelatihan ini berjalan dengan sukses karena dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak.
Banyak jenis-jenis mangrove yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Ternyata mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang besar, sebagai contoh ada beberapa jenis mangrove dari famili Rhizophora yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan (di daerah Bali dimanfaatkan sebagai campuran nasi). Tempat mencari makan berbagai biota laut maupun darat. Sebagian besar banyak biota laut dan darat memiliki ketergantungan terhadap mangrove. Sebagai penahan dari gelombang air laut dan ombak besar, mencegah pengikisan tanah oleh air laut dan masih banyak yang lain-lainnya.
Pelayanan dan perhatian pihak penyelenggara terhadap para peserta sangat baik, begitu pula sebaliknya. Dibuktikan dengan adanya interaksi, komunikasi yang begitu dekat seolah-olah dirasa sebagai teman lama yang pernah kita kenal. Hal seperti ini memang perlu adanya karena dapat meningkatkan semangat dan ikatan emosional antara individu sehingga semua acara dan kegiatan terlaksana dengan lancar tanpa kurang suatu apapun.
Selain itu pelayanan akomodasi yang disediakan juga cukup memadai. Lokasi yang dekat dengan tempat pelatihan dan pelayanan pihak wisma tempat kita me- nginap yang ramah dan santun.
Dari berbagai materi yang didapat selama pelatihan ada salah satu materi yang cukup menarik perhatian yaitu materi field trip (fraktek lapang) dimana peserta diajak berkeliling disekitar kawasan mangrove (mangrove information center) dikenalkan langsung dengan berbagai jenis mangrove di alam dan mempelajari perbedaan jenis serta habitat dari mangrove. Kemudian dikenalkan dengan fauna penghuni kawasan mangrove.
Selain materi yang diberikan cukup menarik, para pengajarnya juga berkompeten serta kepanitian pihak penyelenggara yang solid dan pengertian. Membuat suasana pelatihan semakin menarik dan mengasyikkan. Sehingga waktu berlalu terasa begitu cepat membuat para peserta semakin asyik menikmati hari-hari terakhir menjelang kepulangan ke daerah masing-masing.
Dari segi pengalaman tentunya banyak pengalaman yang menarik didapat dari hasil pelatihan. Banyak teman dan kenalan baru dari berbagai daerah dengan karakter yang berbeda-beda. Banyak mengenal dan tahu beberapa lokasi pariwisata dan tempat-tempat umum lainnya yang ada di Bali. Dengan begitu secara tidak langsung kita mengetahui adat dan budaya serta kehidupan sosial masyarakat pulau Dewata.
By : Dase Suherman / Staff LEMBAR Indonesia
Monday, January 26, 2009
Manfaat dari Makroalga dan Lamun
Sekitar 70% bumi tertutupi oleh laut, yang merupakan ekosistem terbesar yang ada di alam. Tumbuhan laut (marine botany) merupakan salah satu produsen laut paling utama dalam rantai makanan dunia. Variasi tumbuhan laut mulai dari yang unisellular (bersel satu) hingga multisellular (bersel banyak), dari tumbuhan tingkat rendah hingga tingkat tinggi.
Makroalga dan lamun adalah contoh marine botany yang paling utama. Makroalga (seaweeds) yang lebih dikenal dengan ganggang merupakan bagian dari tumbuhan multisellular tingkat rendah (non-vaskular). Seringkali masyarakat Indonesia menyebut makroalga dengan sebutan rumput laut. Rumput laut yang sebenarnya adalah lamun (seagrasses), yang merupakan tumbuhan laut tingkat tinggi (vascular). Kondisi lamun yang menyerupai padang rumput di daratan, oleh karena itu disebut rumput laut, memiliki beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa perlindungan bagi hewan-hewan invertebrate dan ikan-ikan kecil.
Begitu banyak manfaat yang dapat diambil dari makroalga dan lamun yang paling utama adalah sebagai sumber makanan yang kaya akan protein, baik bagi organisme laut itu sendiri ataupun untuk manusia. Budidaya makroalga sudah cukup berkembang di Indonesia, misalnya sebagai bahan utama pembuatan es krim dan agar-agar. Jika dimanfaatkan secara potensial, makroalga dapat dijadikan sumber penghasilan yang cukup menjanjikan, karena pasarannya sampai ke luar negeri. Selain itu, beberapa jenis gastropoda juga banyak yang menjadikan makroalga sebagai tempat tinggal.
Terdapat 52 spesies lamun di dunia dan 12 diantaranya berada di perairan Indonesia. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 30.000 km2, dari luasan tersebut diperkirakan 10%nya sudah mengalami kerusakan. Sebagai tumbuhan tingkat tinggi, lamun harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang memiliki kadar garam sangat tinggi.
Manfaat padang lamun selain sebagai penyedia zat organic dan habitat bagi hewan-hewan kecil (gastropoda, teripang, ikan-ikan kecil dan plankton), juga sebagai sumber makanan utama bagi hewan-hewan besar seperti penyu dan ikan duyung (Dugong dugon). Sebaran daun-daun lamun yang sangat padat dan saling berdekatan dapat meredam gerak arus dan gelombang laut.
Secara fisik padang lamun juga berfungsi sebagai stabilisator perairan pantai dengan mengikat sediment lepas dan membantu meredam kekuatan arus dan gelombang (Komite Nasional Penge- lolaan Lahan Basah, 2004). Lamun merupakan indikator yang baik untuk ekosistem yang sehat. Bila lamun tidak ada atau hilang dari pesisir pantai, hal tersebut menunjukkan sesuatu yang buruk terjadi.
Kurangnya perhatian terhadap ekosistem lamun menyebabkan semakin banyaknya kegiatan yang mengancam kelestarian ekosistem lamun. Hal tersebut berkaitan dengan identifikasi lamun yang merupakan bagian penting, mengingat lamun merupakan bagian dari ekosistem laut yang memiliki prospek yang baik untuk masa depan.
Ekosistem lamun banyak berhubungan dengan pertumbuhan makroalga. Hal tersebut menjelaskan sebagian sedimen lamun berkurang karena ditempati oleh makroalga. Di Filipina dan Indonesia, budidaya alga merah Euchema sp. dikembangkan berasosiasi dengan lamun karena dapat meningkatkan nilai ekonominya. (dikutip dari berbagai sumber)
By : Fika Afriyani / NEF Scholar’s from UI
Makroalga dan lamun adalah contoh marine botany yang paling utama. Makroalga (seaweeds) yang lebih dikenal dengan ganggang merupakan bagian dari tumbuhan multisellular tingkat rendah (non-vaskular). Seringkali masyarakat Indonesia menyebut makroalga dengan sebutan rumput laut. Rumput laut yang sebenarnya adalah lamun (seagrasses), yang merupakan tumbuhan laut tingkat tinggi (vascular). Kondisi lamun yang menyerupai padang rumput di daratan, oleh karena itu disebut rumput laut, memiliki beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa perlindungan bagi hewan-hewan invertebrate dan ikan-ikan kecil.
Begitu banyak manfaat yang dapat diambil dari makroalga dan lamun yang paling utama adalah sebagai sumber makanan yang kaya akan protein, baik bagi organisme laut itu sendiri ataupun untuk manusia. Budidaya makroalga sudah cukup berkembang di Indonesia, misalnya sebagai bahan utama pembuatan es krim dan agar-agar. Jika dimanfaatkan secara potensial, makroalga dapat dijadikan sumber penghasilan yang cukup menjanjikan, karena pasarannya sampai ke luar negeri. Selain itu, beberapa jenis gastropoda juga banyak yang menjadikan makroalga sebagai tempat tinggal.
Terdapat 52 spesies lamun di dunia dan 12 diantaranya berada di perairan Indonesia. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 30.000 km2, dari luasan tersebut diperkirakan 10%nya sudah mengalami kerusakan. Sebagai tumbuhan tingkat tinggi, lamun harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang memiliki kadar garam sangat tinggi.
Manfaat padang lamun selain sebagai penyedia zat organic dan habitat bagi hewan-hewan kecil (gastropoda, teripang, ikan-ikan kecil dan plankton), juga sebagai sumber makanan utama bagi hewan-hewan besar seperti penyu dan ikan duyung (Dugong dugon). Sebaran daun-daun lamun yang sangat padat dan saling berdekatan dapat meredam gerak arus dan gelombang laut.
Secara fisik padang lamun juga berfungsi sebagai stabilisator perairan pantai dengan mengikat sediment lepas dan membantu meredam kekuatan arus dan gelombang (Komite Nasional Penge- lolaan Lahan Basah, 2004). Lamun merupakan indikator yang baik untuk ekosistem yang sehat. Bila lamun tidak ada atau hilang dari pesisir pantai, hal tersebut menunjukkan sesuatu yang buruk terjadi.
Kurangnya perhatian terhadap ekosistem lamun menyebabkan semakin banyaknya kegiatan yang mengancam kelestarian ekosistem lamun. Hal tersebut berkaitan dengan identifikasi lamun yang merupakan bagian penting, mengingat lamun merupakan bagian dari ekosistem laut yang memiliki prospek yang baik untuk masa depan.
Ekosistem lamun banyak berhubungan dengan pertumbuhan makroalga. Hal tersebut menjelaskan sebagian sedimen lamun berkurang karena ditempati oleh makroalga. Di Filipina dan Indonesia, budidaya alga merah Euchema sp. dikembangkan berasosiasi dengan lamun karena dapat meningkatkan nilai ekonominya. (dikutip dari berbagai sumber)
By : Fika Afriyani / NEF Scholar’s from UI
Sekilas TNGH
Berawal dari kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH). Sejak tahun 1935, kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional, dengan luas 40.000 ha., dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Ditetapkanlah SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas disekitar TNGH menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan total luas kawasan menjadi 113,357 ha dan terletak di Propinsi Jawa Barat dan Banten meliputi Kabupaten Sukabumi, Bogor dan Lebak. Dimana, saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Jawa.
Dilihat dari bentuk kawasannya, TNGHS berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan ini menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi didalamnya terdapat beberapa enclave perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata.
Konon, banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi, sehingga menjadi tantangan pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.
Menurut Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, TNGHS sebagai kawasan konservasi mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkesinambungan, seperti : pengatur tata air dan iklim mikro, konservasi hidupan liar, tempat penelitian, pendidikan lingkungan, kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya.
Dimana secara nyata kawasan hutan TNGHS merupakan sumber air yang amat penting bagi masyarakat di sekitarnya termasuk kota-kota besar seperti : Bogor, Sukabumi, Tangerang, Rangkasbitung dan Jakarta. Serta menjadi tempat hidup masyarakat lokal Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy, dimana telah terjadi interaksi masyarakat dengan hutan alam yang masih utuh secara turun temurun.
Topografi kawasan pada umumnya adalah bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Adapun curah hujan rata-rata 4000 - 6000 mm/tahun, musim hujan terjadi pada bulan Oktober – April, musim kemarau berlangsung bulan Mei– September. Dengan iklim yang basah, dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering dan mensuplai air ke wilayah sekitarnya. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang — Ciujung, Cidurian, Cisadane, Cimadur dan Citarik maupun Citatih yang jauh lebih dikenal sebagai tempat wisata arung jeram.
Diperkirakan lebih dari 1.000 jenis tumbuhan terdapat di kawasan TNGHS. Selain itu, tercatat 258 jenis anggrek, 12 jenis bambu, 13 jenis rotan dan jenis-jenis tanaman pangan, hias dan tanaman obat. Khusus di sekitar puncak Gunung Salak juga terdapat jenis-jenis tumbuhan kawah dan hutan lumut.
Adapun satwa yang hidup di TNGHS juga sangat beragam dan beberapa jenis di antaranya adalah jenis langka dan dilindungi, antara lain : Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata) dan Lutung (Trachypithecus auratus).
Kawasan TNGHS juga merupakan surga bagi berbagai jenis serangga yang unik dan indah. Saat ini di TNGHS juga tercatat 244 jenis burung di kawasan ini dan 32 di antaranya adalah endemik Pulau Jawa, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), dan Luntur Gunung (Harpactes reinwardtii).
Selain terdapat potensi flora, fauna, ekosistem hutan dan tradisi sosial budaya Masyarakat Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy seperti Seren Taun, di dalam kawasan TNGHS juga terdapat potensi pariwisata alam lainnya, seperti : fenomena alam puncak gunung, air terjun, bentang alam, perkebunan teh dan situs-situs arkeologis.
TNGHS juga sudah dikenal wisata Trekking antar lokasi objek wisata alam. Pengunjung dapat melakukan lintas alam dari satu lokasi ke lokasi lainnya, sambil melakukan pengamatan kehidupan liar, keseharian aktivitas masyarakat lokal seperti proses pembuatan gula aren, tanam padi, atau sekedar bertualang.
Upaya-upaya yang telah banyak dilakukan oleh Balai TNGHS dengan mitra-mitranya, tentunya belum akan memberikan manfaat yang lebih besar untuk penyelamatan kawasan TNGHS, apabila tidak didukung dan diikuti oleh komitmen secara terus menerus oleh peran aktif masyarakat sekitar kawasan maupun masyarakat lainnya untuk terus mendukung mempertahankan konservasi kawasan TNGHS.
(Dikutip dari berbagai sumber).
By : Akos / LEMBAR
Dilihat dari bentuk kawasannya, TNGHS berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan ini menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi didalamnya terdapat beberapa enclave perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata.
Konon, banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi, sehingga menjadi tantangan pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.
Menurut Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, TNGHS sebagai kawasan konservasi mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkesinambungan, seperti : pengatur tata air dan iklim mikro, konservasi hidupan liar, tempat penelitian, pendidikan lingkungan, kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya.
Dimana secara nyata kawasan hutan TNGHS merupakan sumber air yang amat penting bagi masyarakat di sekitarnya termasuk kota-kota besar seperti : Bogor, Sukabumi, Tangerang, Rangkasbitung dan Jakarta. Serta menjadi tempat hidup masyarakat lokal Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy, dimana telah terjadi interaksi masyarakat dengan hutan alam yang masih utuh secara turun temurun.
Topografi kawasan pada umumnya adalah bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Adapun curah hujan rata-rata 4000 - 6000 mm/tahun, musim hujan terjadi pada bulan Oktober – April, musim kemarau berlangsung bulan Mei– September. Dengan iklim yang basah, dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering dan mensuplai air ke wilayah sekitarnya. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang — Ciujung, Cidurian, Cisadane, Cimadur dan Citarik maupun Citatih yang jauh lebih dikenal sebagai tempat wisata arung jeram.
Diperkirakan lebih dari 1.000 jenis tumbuhan terdapat di kawasan TNGHS. Selain itu, tercatat 258 jenis anggrek, 12 jenis bambu, 13 jenis rotan dan jenis-jenis tanaman pangan, hias dan tanaman obat. Khusus di sekitar puncak Gunung Salak juga terdapat jenis-jenis tumbuhan kawah dan hutan lumut.
Adapun satwa yang hidup di TNGHS juga sangat beragam dan beberapa jenis di antaranya adalah jenis langka dan dilindungi, antara lain : Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata) dan Lutung (Trachypithecus auratus).
Kawasan TNGHS juga merupakan surga bagi berbagai jenis serangga yang unik dan indah. Saat ini di TNGHS juga tercatat 244 jenis burung di kawasan ini dan 32 di antaranya adalah endemik Pulau Jawa, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), dan Luntur Gunung (Harpactes reinwardtii).
Selain terdapat potensi flora, fauna, ekosistem hutan dan tradisi sosial budaya Masyarakat Kesepuhan Banten Kidul, Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy seperti Seren Taun, di dalam kawasan TNGHS juga terdapat potensi pariwisata alam lainnya, seperti : fenomena alam puncak gunung, air terjun, bentang alam, perkebunan teh dan situs-situs arkeologis.
TNGHS juga sudah dikenal wisata Trekking antar lokasi objek wisata alam. Pengunjung dapat melakukan lintas alam dari satu lokasi ke lokasi lainnya, sambil melakukan pengamatan kehidupan liar, keseharian aktivitas masyarakat lokal seperti proses pembuatan gula aren, tanam padi, atau sekedar bertualang.
Upaya-upaya yang telah banyak dilakukan oleh Balai TNGHS dengan mitra-mitranya, tentunya belum akan memberikan manfaat yang lebih besar untuk penyelamatan kawasan TNGHS, apabila tidak didukung dan diikuti oleh komitmen secara terus menerus oleh peran aktif masyarakat sekitar kawasan maupun masyarakat lainnya untuk terus mendukung mempertahankan konservasi kawasan TNGHS.
(Dikutip dari berbagai sumber).
By : Akos / LEMBAR
Mengenal Kehidupan Semut
Serangga merupakan hewan yang memiliki keanekaragaman paling tinggi serta mempunyai jumlah paling ba- nyak dibandingkan dengan kelompok hewan lainnya. Diperkirakan dari semua mahluk hidup bergerak yang berada di muka bumi ini sebagian besar atau sekitar 70 % dari keseluruhan jenis yang telah diidentifikasi adalah serangga.
Salah satu ordo serangga yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi ke tiga di dunia serangga adalah Hymenoptera. Berasal dari kata hymen (membran) dan ptera (sayap), jadi ciri utama Hymenoptera adalah bersayap membran.
Hymenoptera terdiri dari ± 115.000 jenis, meliputi serangga-serangga yang bervariasi seperti semut (Formicidae), lebah, dan tawon. Suksesnya Hymenoptera sebagai ordo lebih disebabkan oleh tingkat adaptasi perilaku yang tinggi diban- dingkan karakteristik fisik atau biokimia.
Semut termasuk kelas Insekta, ordo Hymenoptera, sub ordo Apocrita dan famili Formicidae. Sebagai serangga sosial yang paling sukses, Formicidae mampu hidup dalam lingkungan yang beragam. Lebih dari 20.000 spesies Formicidae yang tersebar di seluruh daratan di dunia, dari tropis hingga kutub, puncak gunung tertinggi hingga wilayah gurun yang tandus, kecuali perairan. Famili Formicidae dalam ekosistem memegang
peranan yang berfungsi penting bagi keseimbangan ekosistem. Diantaranya ada yang bersifat fitopagus (pemakan daun), herbivorus (pemakan tumbuhan), predator (pemangsa), bahkan parasit (merugikan yang lain).
Tubuh Formicidae dibagi menjadi 3 bagian, yaitu caput, thoraks, dan abdomen (Gambar 1). Ukuran tubuh bervariasi dari kecil sampai besar, panjangnya berkisar antara 1mm-4cm.
Gambar. 1 Morfologi Formicidae
Pada bagian kepala terdapat antena yang digunakan sebagai organ peraba, penciuman, dan komunikasi. Antena Formicidae termasuk tipe geniculate, terletak diantara kedua mata majemuk. Mata majemuk ini terdapat di kanan dan kiri kepala yang terdiri atas beberapa mata facet, selain itu pada beberapa jenis dilengkapi dengan mata ocelli.
Thoraks dibagi menjadi 3 ruas, yaitu: prothoraks, mesothoraks, dan metathotraks. Pada bagian mesothoraks dan metathoraks terdapat sepasang sayap yang hanya dimiliki oleh Formicidae jantan dan ratu.
Pada bagian perut terdapat 11 segmen pada ruas kedua dan ketiga pada beberapa jenis Formicidae mengecil dan kadang sampai tipis sekali disebut petiole. Ruas abdomen secara vertikal dibagi menjadi dua bagian, bagian atas disebut tergum dan bagian bawah disebut sternum.
Pada kepala terdapat mulut yang dilengkapi dengan mandibula sebagai alat multifungsi dan bahkan sebagai senjata dengan struktur yang bervariasi sesuai dengan cara hidupnya. Pada bentuk primitif Formicidae mempunyai se- ngatan yang beracun, namun kemudian berkembang menjadi mekanisme pertahanan kimia yang efektif.
Formicidae merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni. Bentuk koloni yang sudah lengkap dapat berjumlah hingga 1 juta ekor. Koloni Formicidae bersifat perennial (tahunan). Sistem sosial ini memiliki kolaborasi yang sangat efektif antar penghuni di dalam satu sarang. Formicidae memiliki bentuk polimorf (beragam) dan sebagai organisasi sosial memiliki kasta-kasta yang berbeda, yaitu: ratu, jantan yang bersayap, pekerja, dan terkadang ada prajurit. Masing-masing kasta Formicidae tersebut mempunyai tugas tersendiri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup koloninya.
Ratu merupakan betina reproduktif yang mempunyai sayap, namun segera terlepas setelah reproduksi (mating). Sperma yang dikeluarkan jantan oleh ratu diletakkan di organ yang disebut spermatheca dan digunakan untuk memfertilisasi telur-telurnya. Seekor ratu dapat mencapai umur 15 tahun dan selama itu mampu menghasilkan telur yang dapat dibuahi oleh sperma yang berasal dari spermatheca. Pekerja terdiri dari mayor, media, dan minor. Mayor adalah prajurit (soldier) merupakan sub kasta dengan jumlah terbesar, sedangan media adalah pekerja antara mayor dan minor. Minor adalah pekerja dengan jumlah terkecil. Kasta pekerja merupakan bagian terbesar dari koloni, bersifat non fertil, tidak mempunyai sayap, dan mengerjakan semua pekerjaan dalam koloni, seperti mencari makanan, merawat larva, membersihkan dan membangun sarang.
Jantan memiliki sayap dan mata yang berkembang sempurna. Pada banyak spesies jantan berukuran lebih besar dari pekerja, tetapi lebih kecil dari ratu. Jantan akan mati setelah kopulasi. Jantan tidak memberikan kontribusi apapun terhadap koloninya, kecuali membuahi ratu. Saat menunggu hingga penerbangan pertama untuk kawin (nuptial flight ) jantan akan diberi makan oleh pekerja. (Dikutip dari berbagai sumber ).
By : Dewi Suprobowati / Volunteer LEMBAR
Salah satu ordo serangga yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi ke tiga di dunia serangga adalah Hymenoptera. Berasal dari kata hymen (membran) dan ptera (sayap), jadi ciri utama Hymenoptera adalah bersayap membran.
Hymenoptera terdiri dari ± 115.000 jenis, meliputi serangga-serangga yang bervariasi seperti semut (Formicidae), lebah, dan tawon. Suksesnya Hymenoptera sebagai ordo lebih disebabkan oleh tingkat adaptasi perilaku yang tinggi diban- dingkan karakteristik fisik atau biokimia.
Semut termasuk kelas Insekta, ordo Hymenoptera, sub ordo Apocrita dan famili Formicidae. Sebagai serangga sosial yang paling sukses, Formicidae mampu hidup dalam lingkungan yang beragam. Lebih dari 20.000 spesies Formicidae yang tersebar di seluruh daratan di dunia, dari tropis hingga kutub, puncak gunung tertinggi hingga wilayah gurun yang tandus, kecuali perairan. Famili Formicidae dalam ekosistem memegang
peranan yang berfungsi penting bagi keseimbangan ekosistem. Diantaranya ada yang bersifat fitopagus (pemakan daun), herbivorus (pemakan tumbuhan), predator (pemangsa), bahkan parasit (merugikan yang lain).
Tubuh Formicidae dibagi menjadi 3 bagian, yaitu caput, thoraks, dan abdomen (Gambar 1). Ukuran tubuh bervariasi dari kecil sampai besar, panjangnya berkisar antara 1mm-4cm.
Gambar. 1 Morfologi Formicidae
Pada bagian kepala terdapat antena yang digunakan sebagai organ peraba, penciuman, dan komunikasi. Antena Formicidae termasuk tipe geniculate, terletak diantara kedua mata majemuk. Mata majemuk ini terdapat di kanan dan kiri kepala yang terdiri atas beberapa mata facet, selain itu pada beberapa jenis dilengkapi dengan mata ocelli.
Thoraks dibagi menjadi 3 ruas, yaitu: prothoraks, mesothoraks, dan metathotraks. Pada bagian mesothoraks dan metathoraks terdapat sepasang sayap yang hanya dimiliki oleh Formicidae jantan dan ratu.
Pada bagian perut terdapat 11 segmen pada ruas kedua dan ketiga pada beberapa jenis Formicidae mengecil dan kadang sampai tipis sekali disebut petiole. Ruas abdomen secara vertikal dibagi menjadi dua bagian, bagian atas disebut tergum dan bagian bawah disebut sternum.
Pada kepala terdapat mulut yang dilengkapi dengan mandibula sebagai alat multifungsi dan bahkan sebagai senjata dengan struktur yang bervariasi sesuai dengan cara hidupnya. Pada bentuk primitif Formicidae mempunyai se- ngatan yang beracun, namun kemudian berkembang menjadi mekanisme pertahanan kimia yang efektif.
Formicidae merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni. Bentuk koloni yang sudah lengkap dapat berjumlah hingga 1 juta ekor. Koloni Formicidae bersifat perennial (tahunan). Sistem sosial ini memiliki kolaborasi yang sangat efektif antar penghuni di dalam satu sarang. Formicidae memiliki bentuk polimorf (beragam) dan sebagai organisasi sosial memiliki kasta-kasta yang berbeda, yaitu: ratu, jantan yang bersayap, pekerja, dan terkadang ada prajurit. Masing-masing kasta Formicidae tersebut mempunyai tugas tersendiri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup koloninya.
Ratu merupakan betina reproduktif yang mempunyai sayap, namun segera terlepas setelah reproduksi (mating). Sperma yang dikeluarkan jantan oleh ratu diletakkan di organ yang disebut spermatheca dan digunakan untuk memfertilisasi telur-telurnya. Seekor ratu dapat mencapai umur 15 tahun dan selama itu mampu menghasilkan telur yang dapat dibuahi oleh sperma yang berasal dari spermatheca. Pekerja terdiri dari mayor, media, dan minor. Mayor adalah prajurit (soldier) merupakan sub kasta dengan jumlah terbesar, sedangan media adalah pekerja antara mayor dan minor. Minor adalah pekerja dengan jumlah terkecil. Kasta pekerja merupakan bagian terbesar dari koloni, bersifat non fertil, tidak mempunyai sayap, dan mengerjakan semua pekerjaan dalam koloni, seperti mencari makanan, merawat larva, membersihkan dan membangun sarang.
Jantan memiliki sayap dan mata yang berkembang sempurna. Pada banyak spesies jantan berukuran lebih besar dari pekerja, tetapi lebih kecil dari ratu. Jantan akan mati setelah kopulasi. Jantan tidak memberikan kontribusi apapun terhadap koloninya, kecuali membuahi ratu. Saat menunggu hingga penerbangan pertama untuk kawin (nuptial flight ) jantan akan diberi makan oleh pekerja. (Dikutip dari berbagai sumber ).
By : Dewi Suprobowati / Volunteer LEMBAR
Subscribe to:
Posts (Atom)